DIANTARA RINAI HUJAN
Sore yang berbeda dari sore-sore yang pernah ku lalui.
Satu persatu rintik hujan mulai menyapa aktivitasku, dingin memblokir absolutku.
Langkah kaki seolah terpenggal dalam hitungan detik, suara petir menggeleger memecah sepi di tengah derasnya hujan.
Wush...
Angin kencang menyapu wajahku dengan begitu dahsyatnya. Seolaah ia ingin menyampaikan sesuatu.
"Hey, kenapa diam dipinggir jalan?" Suara yang tak asing menghapus lakunanku.
Aku menoleh memastikan siapa yang menepuk pundakku hingga semua angan gusar.
Suasana tetap sepi, tak ada satu orangpun disekitarku hanya bunyi jangkrik yang bersahutan dengan bunyi kodok.
Ternyata semua itu hanyalah sisa masalalu yang masih jatuh bersama hujan.
Di jalan ini kumenemukan kisah yang hilang.
Dimas, laki-laki 30 tahun yang dulu menjadi suamiku.
Laki-laki yang membuatku sempurna menjadi wanita seutuhnya. Membuatku tahu tentang kodrat seorang wanita.
Namun sejak kehadiran wanita baru bernama tina, semua kebahagiaan yang telah terpupuk gugur entah dari mana perkenalan mereka masuk.
Masih terekam jelas di memori saat ia dengan gagahnya melepaskan genggaman tangannya yang dulu kuat menggenggam seolah takut kehilanganku.
Tapi, sore itu semua kandas dan membuatku kehilangan kodrat sebagai seorang wanita.
"Maafkan abi umi, abi harus mengakhiri semua cerita kita " dengan penuh kebanggaan ia meninggalkan luka meninggalkan tangiku ditengah derasnya hujan.
Langkahnya semakin samar-samarku lihat.
Ia memegang tangan wanita lain seperti saat ia memegang tanganku dulu. Tangan yang tetap namun beda rasa
Rasa yang dulu ia pupuk dengan keyakinan untukku semua telah menjadi puing-puing pengharapan.
Dari semuanya aku menafsirkan bahwa 1% mengandung air dan 99% mengandung kenangan.
Terimakasih Tuhan, telah menciptakan hujan sore ini hingga tak ada yang tahu bahwa aku menjatuhkan air mata.
Terimakasih hujan kau selalu sudi menghapus setiap tetes air mataku yang jatuh
Waru, 24 November 2017 (04:05 PM)
Komentar